Multi
Level Marketing (MLM) ditemukan oleh dua orang profesor pemasaran dari
Universitas Chicago pada tahun 1940-an. Produk pertama yang dijual
adalah vitamin dan makanan tambahan Nutrilite. Saat itu, Nutrilite
Products Inc. merupakan salah satu perusahaan di Amerika yang dikenal
telah menggunakan metode penjualan secara bertingkat. Dengan modal awal
yang relatif tidak besar, seorang tenaga penjual bisa mendapatkan
penghasilan melalui dua cara. Pertama, keuntungan diperoleh dari setiap
program makanan tambahan yang berhasil dijual ke konsumen. Kedua, dalam
bentuk potongan harga dari jumlah produk yang berhasil dijual oleh
distributor yang direkrut dan dilatih oleh seorang tenaga penjual dari
perusahaan.
Rancangan
penjualan perusahaan itu menarik perhatian Rich DeVos dan Jay Van
Andel. Dua pemuda dari Michigan ini kemudian memutuskan bergabung
sebagai tenaga penjual. Hasilnya, dalam kurun waktu sembilan tahun
mereka tidak hanya menikmati keuntungan dari menjual produk Nutrilite,
tapi yang paling melekat dalam benak mereka adalah kehebatan konsep
penjualannya. Suatu konsep yang merupakan dasar dari terbentuknya Amway
Corporation di kemudian hari.
Pada
pertengahan tahun 1950, organisasi dalam perusahaan Nutrilite mengalami
guncangan. Momentum ini merupakan awal berdirinya Amway pada tahun
1959. Amway didirikan oleh Rich DeVos dan Jay Van Andel berdasarkan
suatu keyakinan bahwa kesuksesan memasarkan suatu produk adalah
menjualnya secara langsung kepada pelanggan. Berdasarkan pengalaman
berharga yang diperoleh dari Nutrilite, mereka memulai usaha yang
sederhana dengan menempati sebuah gudang di kota Ada, Michigan, dengan
produk awal LOC (Liquid Organic Cleaner), suatu cairan pembersih
biodegradable yang aman untuk lingkungan. Usaha ini kemudian berkembang
menjadi Amway Corporation, sebuah perusahaan yang berskala internasional
di 80 negara dan teritori.
MLM
sendiri mulai tumbuh di luar Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Dan
dalam waktu singkat, ia berkembang pesat sebagai bagian yang terpenting
dari industri penjualan langsung. Selama puluhan tahun MLM terbukti
merupakan cara yang sangat sukses memberikan penghasilan yang layak
kepada pelanggan secara langsung. Kesuksesan ini terlihat nyata ketika
pada tahun 1972 Amway membeli Nutrilite Inc. yang memproduksi vitamin
dan makanan tambahan bermutu. Seperti halnya semua bentuk penjualan
langsung, metode ini membawa manfaat yang luar biasa bagi pasar dengan
memberikan kesempatan kepada ribuan orang yang mungkin terabaikan atau
tidak terserap di pasar tenaga kerja. MLM merupakan cara yang cukup
sederhana dan tidak mahal bagi siapa saja yang ingin belajar tentang
dasar bisnis dan manajemen penjualan.
(Dikutip dari majalah DUIT! edisi Oktober 2010)
dari blog saya yohanesss.multiply.com November 2010
Tampilkan postingan dengan label MLM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MLM. Tampilkan semua postingan
Senin, 13 Agustus 2012
Kriteria MLM Yang Baik
(Mengutip Majalah Duit edisi September 2011)
Pertanyaan:
Saya seorang ibu rumah tangga yang ingin menambah uang belanja dengan mencari penghasilan tambahan. Saya tertarik untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan mengikuti tawaran suatu Multi Level Marketing supplemen kesehatan dari luar negeri. Yang ingin saya tanyakan adalah:
1. Apakah berbisnis MLM prospeknya masih cerah?
2. Apakah ada kriteria memilih MLM yang baik?
3. Apakah MLM memang bagian dari franchise (waralaba) mengingat saya pernah menjumpai MLM yang menyebut sistemnya sebagai personal franchise.
(Ida - Bekasi)
Jawaban:
MLM, network marketing, atau apapun istilahnya pada intinya adalah penjualan secara langsung (direct selling). Kunci keberhasilannya adalah seberapa besar kemampuan Anda untuk membukukan penjualan, karena dari penjualan itulah besaran komisi Anda dihitung.
Untuk dapat melakukan penjualan spektakuler, perlu kombinasi tiga hal yang harus saling mendukung, yakniproduk istimewa yang dapat diterima pasar, sistem penjualan yang baik dari Prinsipal, dan tentunya semangat juang, kemampuan menjual, dan kegigihan Anda sendiri sebagai penjualnya. Jika Anda, dan prinsipal MLM Anda tentunya, mempunyai dan mampu menyinergikan tiga hal tersebut, maka prospek bisnis MLM Anda bisa dibilang masih terbuka lebar.
Untuk memilih MLM yang baik ada beberapa hal yang bisa Anda perhatikan:
1. Barang yang ditawarkan memang kebutuhan sehari-hari dan memungkinkan pembelian berulang (repeat order) dalam waktu dekat. Misalkan saja barang kebutuhan sehari-hari atau suplemen kesehatan. Hal ini penting untuk memastikan volume pasar produk Anda cukup besar dilihat dari jumlah orang yang membutuhkan produk dan seberapa sering mereka melakukan pembelian ulang.
2. Pastikan barang yang Anda jual sudah mempunyai izin-izin yang diperlukan, seperti misalnya makanan dan obat-obatan harus mendapatkan izin edar dari BP-POM. Anda harus waspada jika produk yang Anda jual belum memiliki perizinan lengkap, jika sampai jatuh korban akibat mengkonsumsi produk Anda, salah-salah Anda malah bisa dilaporkan ke yang berwajib.
3. Pilihlah MLM yang menawarkan produk dengan harga yang wajar. Memang umumnya MLM menjual produk dengan harga tinggi/premium karena harus membayar komisi yang besar bagi para agennya. Namun jika sampai harga yang dipatok sudah keterlaluan tingginya - apalagi produk yang ditawarkan biasa-biasa saja - pelanggan justru malah kapok membeli dan reputasi produk Anda malah jatuh.
4. Pilihlah MLM yang sudah terdaftar di Asosiasi Penjual Langsung Indonesia (APLI) sehingga jika terjadi masalah, asosiasi dapat membantu Anda dalam melakukan penyelesaian.
Jika Anda bertanya mengenai hubungan MLM dengan Franchise/Waralaba, maka keduanya adalah sama-sama skema distribusi barang dengan memanfaatkan hak atas karya intelektual berupa hak merek milik prinsipal. Selain itu, konsep keduanya sangatlah berbeda. Dalam inlu franchising sendiri tidak dikenal istilah personal franchise sehingga jika ada yang mengistilahkan MLM sebagai personal franchise, bisa jadi MLM yang bersangkutan sekadar "meminjam" istilah Franchise/Waralaba yang memang sedang booming di masyarakat.
(Pietra Sarosa - SAROSA Consulting Group)
Migrasi dari yohaness.multiply.com September 2011
Pertanyaan:
Saya seorang ibu rumah tangga yang ingin menambah uang belanja dengan mencari penghasilan tambahan. Saya tertarik untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan mengikuti tawaran suatu Multi Level Marketing supplemen kesehatan dari luar negeri. Yang ingin saya tanyakan adalah:
1. Apakah berbisnis MLM prospeknya masih cerah?
2. Apakah ada kriteria memilih MLM yang baik?
3. Apakah MLM memang bagian dari franchise (waralaba) mengingat saya pernah menjumpai MLM yang menyebut sistemnya sebagai personal franchise.
(Ida - Bekasi)
Jawaban:
MLM, network marketing, atau apapun istilahnya pada intinya adalah penjualan secara langsung (direct selling). Kunci keberhasilannya adalah seberapa besar kemampuan Anda untuk membukukan penjualan, karena dari penjualan itulah besaran komisi Anda dihitung.
Untuk dapat melakukan penjualan spektakuler, perlu kombinasi tiga hal yang harus saling mendukung, yakniproduk istimewa yang dapat diterima pasar, sistem penjualan yang baik dari Prinsipal, dan tentunya semangat juang, kemampuan menjual, dan kegigihan Anda sendiri sebagai penjualnya. Jika Anda, dan prinsipal MLM Anda tentunya, mempunyai dan mampu menyinergikan tiga hal tersebut, maka prospek bisnis MLM Anda bisa dibilang masih terbuka lebar.
Untuk memilih MLM yang baik ada beberapa hal yang bisa Anda perhatikan:
1. Barang yang ditawarkan memang kebutuhan sehari-hari dan memungkinkan pembelian berulang (repeat order) dalam waktu dekat. Misalkan saja barang kebutuhan sehari-hari atau suplemen kesehatan. Hal ini penting untuk memastikan volume pasar produk Anda cukup besar dilihat dari jumlah orang yang membutuhkan produk dan seberapa sering mereka melakukan pembelian ulang.
2. Pastikan barang yang Anda jual sudah mempunyai izin-izin yang diperlukan, seperti misalnya makanan dan obat-obatan harus mendapatkan izin edar dari BP-POM. Anda harus waspada jika produk yang Anda jual belum memiliki perizinan lengkap, jika sampai jatuh korban akibat mengkonsumsi produk Anda, salah-salah Anda malah bisa dilaporkan ke yang berwajib.
3. Pilihlah MLM yang menawarkan produk dengan harga yang wajar. Memang umumnya MLM menjual produk dengan harga tinggi/premium karena harus membayar komisi yang besar bagi para agennya. Namun jika sampai harga yang dipatok sudah keterlaluan tingginya - apalagi produk yang ditawarkan biasa-biasa saja - pelanggan justru malah kapok membeli dan reputasi produk Anda malah jatuh.
4. Pilihlah MLM yang sudah terdaftar di Asosiasi Penjual Langsung Indonesia (APLI) sehingga jika terjadi masalah, asosiasi dapat membantu Anda dalam melakukan penyelesaian.
Jika Anda bertanya mengenai hubungan MLM dengan Franchise/Waralaba, maka keduanya adalah sama-sama skema distribusi barang dengan memanfaatkan hak atas karya intelektual berupa hak merek milik prinsipal. Selain itu, konsep keduanya sangatlah berbeda. Dalam inlu franchising sendiri tidak dikenal istilah personal franchise sehingga jika ada yang mengistilahkan MLM sebagai personal franchise, bisa jadi MLM yang bersangkutan sekadar "meminjam" istilah Franchise/Waralaba yang memang sedang booming di masyarakat.
(Pietra Sarosa - SAROSA Consulting Group)
Migrasi dari yohaness.multiply.com September 2011
Langganan:
Postingan (Atom)